Selasa, 09 Agustus 2011

KONSEP PENDIDIKAN MOHAMMAD NATSIR

A. Pendahuluan

Mohammad Natsir adalah tokoh besar. Ia seorang politikus ulung, intelektual brilian, ulama kharismatis, da’i paripurna, pejuang hebat dan masih banyak sebutan-sebutan lain yang dapat disematkan padanya. Ia memang dzu wujuh, memiliki banyak wajah, dalam pengertian mempunyai beragam kemampuan dan memasuki banyak medan perjuangan. Sehingga pikiran-pikiran dan sepak terjang perjuangannya senantiasa menarik untuk dikaji.

Salah satu “wajah” Natsir yang cukup menonjol, selain beberapa “wajah” diatas tadi, adalah Natsir sebagai seorang pemikir dan praktisi pendidikan. Di bidang pendidikan ini, jejak langkah dan pemikiran Natsir amat nyata terlihat. Baik dari tulisan-tulisannya, perjuangannya, maupun peninggalan-peninggalannya berupa lembaga pendidikan. Dari kesemuanya itu, dapat difahami bagaimana sesungguhnya konsep pendidikan yang dibangun Mohammad Natsir selama ini. Makalah ini akan mencoba mengelaborasi masalah tersebut, dengan merujuk terutama kepada karya monumental Natsir, Capita Selecta.

B. Biografi Mohammad Natir[1]

Mohammad Natsir berasal dari Tanah Minang. Ia lahir pada tanggal 17 Juli 1908, di Alahan Panjang, Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Orangtuanya adalah pasangan Idris Sutan Saripado dan Khadijah. Setelah menikah Natsir mendapat gelar “Datuk Sinaro Panjang”.

Masa kecilnya dihabiskan di beberapa tempat. Awalnya di Maninjau bersama keluarganya. Kemudian ia tinggal di Padang bersama makciknya beberapa bulan. Setelah itu kembali ikut keluarganya yang pindah ke Solok. Kemudian Natsir diajak Kakaknya kembali tinggal di Padang hingga menyelesaikan MULO[2]. Setelah itu Natsir merantau ke Bandung Jawa Barat guna meneruskan sekolahnya ke AMS[3]. Di Bandung inilah Nastir berkenalan dengan Ustadz A. Hassan yang kemudian menjadi gurunya.

Tamat AMS tahun 1930 dengan nilai baik, Natsir berhak mendapatkan beasiswa ke Fakultas Hukum Jakarta atau Fakultas Ekonomi di Rótterdam Belanda. Namun Natsir memutuskan tidak mengambil keduanya. Ia malah menjadi redaktur majalah Pembela Islam dan kemudian mendirikan sekolah bernama Pendidikan Islam (Pendis). Sepuluh tahun (1932-1942) Natsir berjuang mengelola Pendis hingga dapat membuka sekolah hingga tingkat MULO. Namun akhirnya Jepang datang dan menutup semua sekolah partikelir[4], termasuk Pendis.

Di masa pendudukan Jepang, Natsir menjabat Biro Pengajaran Kota Bandung. Selain itu ia juga memimpin sebuah perkumpulan bernama Majlis Islam, tempat berkoordinasinya para guru, khatib dan ulama di wilayah Kotapraja Bandung. Ketika Jepang membentuk Masyumi[5] -sebuah perkumpulan yang dibentuk Jepang untuk berhubungan dengan ummat Islam- Natsir ikut menjadi pengurusnya. Tahun 1945 Jepang mendirikan Sekolah Tinggi Islam (STI) yang dipimpin oleh Mohammad Hatta. Di Sekolah Tinggi pertama di Indonesia itu Natsir menjadi sekretarisnya. Ketika menjadi sekretaris STI ini Natsir kerap bolak balik Bandung – Jakarta. Iapun mulai banyak bergaul dengan tokoh-tokoh pergerakan semacam Prawoto Mangkusasmito, Kahar Muzakkir dan tentu Mohammad Hatta.

Ketika peristiwa kemerdekaan terjadi, Natsir berada di Bandung. Pasca kemerdekaan, Natsir menduduki beberapa jabatan penting, yaitu: Anggota Badan Pekerja KNIP (1945-1946), Menteri Penerangan (1946-1949), Ketua Umum Partai Masyumi (1949-1958), Perdana Menteri Republik Indonesia (1950-1951), Anggota Parlemen Republik Indonesia (1950-1958), dan Anggota Konstituante Republik Indonesia (1956-1958).

Setelah konstituante dibubarkan oleh presiden Soekarno dengan dekrit tanggal 5 Juli 1959, keadaan negara semakin kacau. Soekarno makin dekat dengan PKI dan makin otoriter. Menghadapi suasana seperti itu, Mohammad Natsir dan partainya tetap memberikan masukan dan nasihat untuk pemerintah. Akhirnya karena sikap kritisnya itu, pada tahun 1960 Natsir dipenjarakan oleh Soekarno. Ia bebas dua tahun kemudian.

Setelah pemerintahan Soekarno tumbang, Natsir dan kawan-kawan seperjuangannya berusaha membangun kembali Mayumi yang sebelumnya dibubarkan Soekarno. Namun usahanya itu tidak berhasil karena dihalangi Soeharto. Kemudian Natsir bersama alim ulama lainnya mendirikan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia pada tanggal 26 Februari 1967 sebagai alat perjuangannya yang baru. Dewan Da’wah sendiri adalah sebuah lembaga yang bergerak di bidang dakwah. Natsir menjadi ketuanya hingga meninggal dunia pada tanggal 6 Pebruari 1993, dalam usia 84 Tahun.

Biografi Pendidikan Mohammad Natsir

Sebagai pembahasan awal dari konsep pendidikan Mohammad Natsir, maka perlu dijelaskan terlebih dahulu mengenai latar belakang pendidikan Mohammad Natsir, baik sebagai pelajar dan pengajar juga kiprahnya di dunia pendidikan. Penjelasan mengenai hal ini akan mempermudah memahami konsep dan ide pendidikan Natsir.

1. Sebagai Anak Didik.

Awalnya Natsir ingin sekali bersekolah di HIS, sekolah yang didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk anak-anak pribumi kelas atas. Namun karena ayahnya seorang pegawai rendahan, maka ia hanya dapat bersekolah di sekolah kelas dua. Sekolah ini memang disediakan pemerintah Hindia-Belanda untuk anak-anak masyarakat bawah seperti petani, buruh dan pegawai rendahan. Orang jawa menyebut sekolah macam ini dengan Ongko Loro (angka dua)[6].

Disamping menuntut ilmu di sekolah umum, Natsir kecil juga mendapatkan tambahan ilmu agama dari suaru. Ia bersama teman-teman sebayanya menginap di surau sambil mengaji. Disinilah dasar-dasar pendidikan agama mulai tertanam dalam diri Natsir.

Ketika masih bersekolah di tingkat dasar, Natsir diajak pamannya, Rachim, untuk tinggal bersama di Padang. Natsir mengiyakan ajakan pamannya ini dengan satu harapan, dapat bersekolah di HIS Pemerintah. Namun status ayahnya sebagai pegawai rendahan lagi-lagi menghalangi keinginannya itu. Tapi Natsir beruntung, karena di Padang waktu itu muncul beberapa sekolah HIS Partikelir yang didirikan bukan oleh pemerintah. Oleh karena itulah pemerintahan Hindi Belanda menyebut sekolah semacam ini dengan Wilde School (sekolah liar). Salah satu sekolah HIS Partikelir itu adalah HIS Adabiyah yang didirikan oleh Haji Abdullah Ahmad, seorang tokoh pergerakan Sumatera Barat. Di sekolah HIS inilah akhirnya Natsir melanjutkan pendidikannya. Belum sempat Natsir menyelesaikan kelas satunya, ia sudah kembali pindah. Kali ini ke Solok. Di kota ini baru dibuka satu sekolah HIS Pemerintah. Oleh ayahnya Natsir coba didaftarkan. Karena kelas satu sudah penuh, Natsir kemudian mencoba mendaftar di kelas dua. Karena kepintarannya Natsir dapat diterima di kelas dua. Di Solok, selain belajar di HIS, sore harinya Natsir juga belajar agama di Madrasah Diniyah Tuanku Mudo Amin, seorang pengikut Haji Rasul. Lagi-lagi Natsir tidak dapat menyelesaikan HIS-nya. Karena ketika kelas empat ia kembali pindah ke Padang atas ajakan kakaknya, Rabi’ah. Di Padang Natsir diterima di kelas lima HIS Pemerintah, sekolah yang dulu pernah menolaknya karena status ayahnya. Akhirnya di sekolah inilah Natsir menyelesaikan HIS nya.

Setamatnya dari HIS, karena nilai-nilainya yang baik, Natsir mendapat beasiswa untuk melanjutkan sekolah ke tingkat MULO Pemerintah di Padang. Ia mendapatkan beasiswa sebesar Rp. 20 perbulan selama belajar di MULO[7]. Natsir sekolah di MULO dari tahun 1923-1927. Ia tamat dengan nilai memuaskan.

Karena Natsir mendapatkan nilai yang baik di MULO, maka ia kembali mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikannya ke tingkat AMS (1927-1930), setingkat SMA sekarang. Karena di Padang belum ada sekolah tingkat MULO, Natsir kemudian memutuskan untuk melanjutkan sekolah AMS nya di Bandung, Jawa Barat. Di AMS Natsir mendapat beasiswa sebesar Rp. 30 perbulan karena nilainya baik[8].

Selepas tamat dari AMS, Natsir mendapat tawaran beaiswa untuk meneruskan pendidikannya ke Fakultas Hukum Jakarta atau Fakultas Ekonomi di Rótterdam Belanda. Namun ia menolak kedua tawaran itu, dan lebih memilih untuk menjadi pegawai di majalah Pembela Islam. Beberapa tahun kemudian, karena keinginannya mendirikan sebuah sekolah, Natsir mengikuti kursus guru Diploma LO1 (1931-1932) di Bandung.

Natsir juga pernah meneruskan studinya tentang Islam di PERSIS antara tahun 1927 hingga tahun 1932.

2. Sebagai Pendidik.

Sepanjang hidupnya, Natsir senantiasa mengabdikan diri untuk kemajuan dunia pendidikan. Kiprahnya di dunia pendidikan antara lain:

a. Guru Madrasah

Ketika duduk di kelas tiga Madrasah Diniyah Tuanku Mudo Amin, Natsir diminta menjadi Guru bantu kelas satu. Hal ini karena kepintaran dan prestasinya[9]. Namun karena ketika kelas empat ia pindah ke Padang, maka iapun tidak lagi berkesempatan untuk mengajar.

b. Mendirikan Pendis

Begitu selesai AMS dengan nilai memuaskan, Natsir sebetulnya berkesempatan untuk meneruskan pendidikannya ke tingkat perguruan tinggi. Namun dengan pertimbangan yang sangat matang, Natsir kemudian memutuskan untuk tidak mengambil kesempatan itu. Ia memilih untuk terus belajar kepada A. Hassan dan kemudian mendirikan Pendis (Pendidikan Islam). Pendis adalah sebuah sekolah partikelir dengan sistem pendidikan integral. Apa yang dilakukan Natsir dengan Pendis ini menjadi penting karena beberapa hal. Pertama, secara konsisten Natsir menerapkan visi pendidikiannya dalam kurikulum pengajaran dalam bentuk yang integral. Natsir menempatkan pelajaran-pelajaran dasar agama sejajar dengan pelajaran-pelajaran lainnya. Kedua, Natsir tidak menempatkan Pendis sebagai satu-satunya model pendidikan yang harus dikembangkan. Secara konsisten Natsir juga menyokong berdirinya Pesantren Persatuan Islam pada tahun 1936 atas inisiatif A. Hassan. Natsir ikut merumuskan kurikulum dan menjadi pengajar di sini. Sesuai dengan visinya, pesantren yang baru berdiri itu tidak hanya mengajarkan disiplin ilmu agama secara mendalam, tapi juga memperkenalkan pengetahuan-pengetahuan umum seperti pengetahuan sosial, Bahasa Belanda, Bahasa Inggris, Ilmu Mengajar, dan sedikit ilmu-ilmu Alam. Jumlahnya tentu tidak sebanyak di Pendis karena tujuannya hanya untuk memperluas wawasan santri. Ketiga, visi dan prinsip yang dipegang Natsir ini, terus dipegang sepanjang hayatnya nanti, dalam posisi apapun.

c. Sekretaris Sekolah Tinggi Islam (sekarang Universitas Islam Indonesia, Jogjakarta).

d. Mendirikan Lembaga Pendidikan Dakwah Islamiyah (LPDI)

Ketika menjabat sebagai ketua Dewan Da'wah, Natsir berinisiatif mendirikan sebuah lembaga sebagai tempat pengkaderan para penerusnya. Lembaga ini berbentuk lembaga pendidikan dengan nama Lembaga Pendidikan Dakwah Islamiyah atau lebih dikenal dengan sebutan LPDI. Dari rahim LPDI inilah banyak lahir kader-kader muda Mohammad Natsir. Kini para kader itu sudah banyak berkecimpung di dunia dakwah, baik di Dewan Da'wah maupun di lembaga da'wah lainnya[10].

e. Ikut mendirikan sembilan Universitas di Indonesia.

Mohammad Natsir tercatat ikut mendirikan sembilan universitas di berbagai kota di Indonesia. Diantaranya adalah Ibn Khaldun Bogor, UISU Medan, UNISBA Bandung, UMI Makassar, UNISSULA Semarang, UIR Riau dan Universitas al-Azhar Indonesia Jakarta[11].

f. Anggota Dewan Kurator sejumlah Universitas Internasional.

Karena ketokohannya di tingkat Internasional, Natsir juga mendapatkan kehormatan untuk dengan menjadi anggota Dewan Kurator di tiga universitas Internasional, yaitu: International Islamic University Malaysia (IIUM), International Islamic University Islamabad (IIUI) Pakistan, dan Oxford Islamic Studies.

C. Konsep Pendidikan Mohammad Natsir

Urgensi Pendidikan

Menurut Mohammad Natsir, di dalam Islam pendidikan dipandang sebagai sesuatu yang sangat penting. Pandangan ini terlihat misalnya dari tulisan Natsir ketika membantah buku yang ditulis Dr. I.J. Brugmans yang berjudul Geschiedenis van het Onderwijs in Ned.Indie (Sejarah Pendidikan di Hindia Belanda) yang mengatakan bahwa Islam adalah agama penaklukan yang disebarkan dengan pedang[12].

Untuk menangkis kesimpulan itu, Natsir mengemukakan bahwa Islam pada hakikatnya adalah agama Tarbiyah atau agama pendidikan yang diajarkan oleh Tuhan kepada hambaNya. Salah satu dari sifatNya adalah Rabb yang artinya Maha Mendidik atau Maha Mengatur sekalian alam. Kata tarbiyah ini menurut Natsir mencakup masalah-masalah yang duniawi maupun ukhrawi, rohani maupun jasmani, intelektual maupun etika budi pekerti, formal maupun non-formal, dan ditujukan terhadap diri sendiri, keluarga maupun masyarakat. Karena Tarbiyah adalah proses yang tidak pernah berhenti maka menuntut ilmu, mendidik dan mendapatkan pendidikan adalah kewajiban sepanjang umur[13].

Mengenai urgensi pendidikan ini Natsir juga menulis:

Maju atau mundurnya salah satu kaum, bergantung sebagian besar kepada pelajaran dan pendidikan yang berlaku dalam kalangan mereka itu. Tak ada satu bangsa yang terbelakang menjadi maju, melainkan sesudahnya mengadakan dan memperbaiki didikan anak-anak dan pemuda-pemuda mereka[14].

Jadi menurut Natsir, maju mundurnya satu bangsa sangat ditentukan oleh sejauh mana perhatian bangsa tersebut dalam bidang pendidikan. Maka dalam pandangan Natsir pendidikan adalah masalah yang paling penting di tengah-tengah masyarakat, ia menulis, "Masalah pendidikan ini adalah masalah masyarakat, masalah kemajuan yang sangat penting sekali, lebih penting dari masalah yang lainnya"[15].

Untuk membuktikan pendapatnya ini, Natsir memberikan dua contoh yang berlawanan. Satu negara yang maju karena memperhatikan masalah pendidikan bangsanya, satu lagi adalah negara yang tidak memperhatikan masalah pendidikan, sehingga menjadi negara tertinggal. Negara itu adalah Jepang dan Spanyol. Mengenai Jepang ia menulis, ” Bangsa Jepang, satu bangsa di Timur yang sekarang jadi buah mulut orang seluruh dunia lantaran majunya, masih akan tinggal terus dalam kegelapan sekiranya mereka tidak mengatur pendidikan bangsa mereka”. Sementara mengenai Spanyol Natsir menulis, ”Sepanyol, satu negeri di benua Barat, yang selama ini masuk golongan bangsa kelas satu, jatuh merosot ke kelas bawah, sesudah enak dalam kesenangan mereka dan tidak mempedulikan pendidikan pemuda-pemuda yang akan mengantian pujangga-pujangga bangsa di hari kelak”[16].

Kemudian Natsir juga menjelaskan lebih jauh kenapa pendidikan menjadi satu hal yang sangat penting dalam menentukan maju dan tidaknya satu bangsa. Menurutnya, kemunduran dan kemajuan satu bangsa tidak tergantung pada letak bangsa itu yang di timur atau di barat. Tidak juga tergatung kepada warna kulit bangsa itu. Yang menentukan adalah ada atau tidaknya sifat-sifat dan bibit-bibit kesanggupan yang menjadikan mereka layak atau tidak menjadi bangsa maju dan menduduki tempat yang mulia di dunia ini. Lalu darimanakah datangnya sifat-sifat dan bibit-bibit kesanggupan itu? Natsir menjawab, ”bergantung kepada didikan ruhani dan jasmani yang mereka terima untuk mencapai yang demikian”[17].

Adapun mengenai pengertian pendidikan, Natsir menjelaskan:

Yang dinamakan didikan ialah suatu pimpinan jasmani dan rohani yang menuju kepada kesempurnaan dan lengkapnya sifat-sifat kemanusiaan dengan arti yang sesungguhnya. Pimpinan semacam ini sekurangnya antara lain perlu kepada dua perkara: a. Satu tujuan yang tertentu tempat mengarahkan didikan. b. Satu asas tempat mendasarkannya[18].

Karena itulah landasan dan tujuan pendidikan adalah dua hal yang sangat diperhatikan oleh Natsir.

Landasan Pendidikan.

Mohammad Natsir memandang bahwa yang harus menjadi landasan pendidikan adalah tauhid. Ini misalnya terlihat pada pidato Natsir dalam rapat Persatuan Islam di Bogor pada tanggal 17 Juni 1934 dengan judul ”Ideologi Didikan Islam”. Juga terlihat dalam tulisannya di Pedoman Masyarakat pada tahun 1937 dengan judul ”Tauhid Sebagai Dasar Didikan”. Menurut Mochtar Naim, dalam dua tulisan itu dengan gamblang Natsir menggariskan bahwa ideologi pendidikan ummat Islam harus bertitik-tolak dari dan berorientasi kepada Tauhid[19].

Menurut Natsir, jika tauhid dijadikan landasan pendidikan ummat Islam maka pendidikan akan membentuk anak didik menjadi:

Memiliki kepribadian yang tangguh.
Berani mengarungi berbagai kesulitan hidup, bahaya, tipu daya dan bahkan malapetaka.
Berani mati demi tegaknya kebenaran dan perintah ilahi.
Membentuk keikhlasan, kejujuran dan keberanian serta rasa tanggung jawab untuk melaksanakan suatu tugas atau kewajiban yang diyakini kebenarannya[20].

Dengan kepribadian seperti diatas, maka seorang anak didik akan menjadi pribadi yang tangguh dalam melaksanakan tugas kemanusiaannya sebagai hamba Allah maupun sebagai mahluk sosial. Maka menurut Natsir tauhid sesungguhnya adalah landasan begi seluruh aspek kehidupan manusia dalam melaksanakan ibadah kepada Allah swt[21].

Oleh karena itu menurut Natsir Tauhid harus diajarkan kepada anak sedini mungkin. Ia mencontohkan bagaimana di dalam al-Qur`an Allah swt menceritakan kisah Lukman al-Hakim yang mengajarkan anaknya mengenai Tauhid. Kemudian ketika Tauhid itu sudah menancap dalam hati seorang anak, maka ia akan menjadi orang yang hanya menghambakan dirinya kepada Allah swt. Inilah yang tercermin dalam pribadi Ismail as. Ia merelakan nyawanya demi memenuhi perintah Allah swt melalui mimpi yang diterima ayahnya Ibrahim as[22].

Tujuan Pendidikan

Bagi Mohammad Natsir, tujuan pendidikan sangat erat kaitannya dengan landasan pendidikan. Tujuan pendidikan itu harus sesuai dengan tujuan hidup manusia. Dalam pidatonya pada rapat Persatuan Islam di Bogor Natsir berkata:

Apakah tujuan yang akan dituju oleh didikan kita? Sebenarnya tidak pula dapat dijawab sebelum menjawab pertanyaan yang lebih tinggi lagi, yaitu ”Apakah tujuan hidup kita di dunia ini?”. kedua pertanyaan ini tidak dapat dipisahkan, keduanya sama (identik). ”Tujuan didikan ialah tujuan hidup”. Qur`anul Karim menjawab pertanyaan ini begini: Dan Aku (Allah) tidak jadikan jin dan manusia, melainkan untuk menyemah Aku (QS. Adz-Dzariat: 56).[23]”

Jadi menurut Natsir, tujuan pendidikan adalah sama dengan tujuan hidup. Adapun tujuan hidup menurutnya adalah menjadi hamba Allah. Mengenai menjadi hamba Allah ini Natsir menjelaskan: ”Menyembah Allah itu melengkapi semua ketaatan dan ketundukan kepada semua perintah Ilahi, yang membawa kepada kebesaran dunia dan kemenangan akhirat, serta menjauhkan diri dari segala larangan-larangan yang meghalang-halangi tercapainya kemenangan dunia dan akhirat itu”[24].

Namun menurut Natsir, menjadi hamba Allah ini bukanlah perkara yang mudah. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh seorang hamba agar menjadi hamba Allah. Pertama hamba Allah itu harus memiliki ilmu. Pendapatnya ini berlandaskan kepada surat Fathir ayat 28:

šÆÏBur Ĩ$¨Z9$# Å_U!#ur¤$!$#ur ÉO»yè÷RF{$#ur ì#Î=tFøƒèC ¼çmçRºuqø9r& šÏ9ºx‹x. 3 $yJ¯RÎ) Óy´øƒs† ©!$# ô`ÏB ÍnÏŠ$t6Ïã (#às¯»yJn=ãèø9$# 3 žcÎ) ©!$# ͕tã î‘qàÿxî ÇËÑÈ

”Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.

Maka menurut Natsir, seorag hamba Allah bukanlah orang yang mengasingkan diri ke hutan belantara kemudian disana ia sibuk shalat dan shaum saja. Seorang hamba Allah adalah orang yang ditinggikan derajatnya oleh Allah dan dijadkan sebagai pemimpin manusia. Mereka manuruti perintah Allah, berbuat baik kepada sesama mahluk dan beribadah kepada Tuhannya[25]. Hal ini menurut Natsir sesuai dengan firman Allah:

}§øŠ©9 §ŽÉ9ø9$# br& (#q—9uqè? öNä3ydqã_ãr Ÿ@t6Ï% É-ÎŽô³yJø9$# É>̍øóyJø9$#ur £`Å3»s9ur §ŽÉ9ø9$# ô`tB z`tB#uä «!$$Î/ ÏQöqu‹ø9$#ur ̍ÅzFy$# Ïpx6Í´¯»n=yJø9$#ur É=»tGÅ3ø9$#ur z`¿Íh‹Î;¨Z9$#ur ’tA#uäur tA$yJø9$# 4’n?tã ¾ÏmÎm6ãm “ÍrsŒ 4†n1öà)ø9$# 4’yJ»tGuŠø9$#ur tûüÅ3»|¡yJø9$#ur tûøó$#ur È@‹Î6¡¡9$# tû,Î#ͬ!$¡¡9$#ur ’Îûur ÅU$s%Ìh9$# uQ$s%r&ur no4qn=¢Á9$# ’tA#uäur no4qŸ2¨“9$# šcqèùqßJø9$#ur öNÏdωôgyèÎ/ #sŒÎ) (#r߉yg»tã ( tûïÎŽÉ9»¢Á9$#ur ’Îû Ïä!$y™ù't7ø9$# Ïä!#§ŽœØ9$#ur tûüÏnur Ĩù't7ø9$# 3 y7Í´¯»s9'ré& tûïÏ%©!$# (#qè%y‰|¹ ( y7Í´¯»s9'ré&ur ãNèd tbqà)­GßJø9$# ÇÊÐÐÈ

”Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa”. (al-Baqarah: 177)

Perhambaan kepada Allah yang jadi tujuan hidup dan jadi tujuan didikan kita, bukanlah suatu perhambaan yang memberi keuntungan kepada yang disembah, tetapi perhambaan yang mendatangakan kebahagiaan kepada yang menyembah, perhambaan yang memberi kekuatan kepada yang memperhambakan dirinya itu..... Akan menjadi orang yang memperhambakan segenap ruhani dan jasmaninya kepada Allah swt untuk kemenangan dirinya dengan arti yang seluas-luasnya yang dapat dicapai oleh manusia, itulah tujuan hidup manusia di atas dunia. Itulah tujuan didikan yang harus kita berikan kepada anak-anak kita kaum Muslimin[26].

Karakter Pendidikan Islam

Menurut Mohammad Natsir, pendidikan yang harus diberikan kepada anak didik adalah pendidikan yang memiliki sifat integral dan universal. Universal artinya pendidikan itu tidak terkait dengan Barat atau Timur[27]. Karena bagi Natsir Barat dan Timur adalah sama, dua-duanya makhluk Allah yang bersifat baru (huduts). Pendapatnya ini didasarkan kepada karakter Islam yang tidak mengantagoniskan antara Barat dan Timur. Menurut Natsir Islam hanya mengantagoniskan antara hak dan bathil. Sehingga apa yang datang dari Timur jika itu bathil maka harus disingkirkan dan apa yang datang dari Barat jika itu hak maka harus diterima[28].

Sementara integral artinya pendidikan itu tidak mengenal pemisahan antara jasmani dan ruhani, maupun dunia dan akhirat. Sehingga pendidikan Islam itu mengantarkan seseorang kepada kebahagiaan dalam menghambakan diri kepada Allah swt dan dalam rangka membina hari esok yang lebih baik, di dunia maupun di akhirat[29]. Mengenai sifat pendidikan yang integral dan universal ini Natsir mengacu kepada firman Allah swt dalam surat al-Baqarah : 143.

Mohammad Nasir sebagimaan juga kita, dihadapkan pada permasalahan dikotomi ilmu, antara ilmu umum dan ilmu agama. Menghadapi hal ini Natsir mencoba menjembataninya dengan mengisi kekurangan yang satu dengan kelebihan yang lain[30]. Jadi sistem pendidikan yang bersifat universal, integral dan harmonis ini tidak lagi mengenal dikotomi antara pendidikan umum dan agama. Semua dasarnya adalah agama, apapun bidang dan disiplin ilmu yang dimasuki.

Pikiran Natsir diatas muncul setelah ia melihat kenyataan di lapangan pada masanya, bahwa praktik pendidikan yang dihadapi ummat, satu sama lain saling menegasikan dan bersebrangan. Di datu sisi, pendidikan klasikal ala Belanda yang baru diperkenalkan kepada masyarakat muslim Indonesia pada akhir abad 19 dan awal abad 20, terutama melalui kebijakan Politik Etis Belanda, sama sekali tidak mengajarkan dan menyentuh aspek-aspek agama. Sekularisme begitu jelas membayang-bayangi sistem pendidikan baru ini. Sementara di sisi lain, pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua dan asli Indonesia bersikap antipati terhadap semua yang berbau Belanda. Sikap ini mudah untuk doifahami, mengingat sepanjang abad 19, pihak Pesantren dengan penuh semangat jihad fi sabilillah mengerakan berbagai elemen ummat dan masyarakat untuk berperang melawan penjajah Belanda. Oleh sebab itu apapun yang berbau Belanda dianggap buruk, termasuk sistem pendidikan yang ditawarkannya[31].

Adapun kelebihan Natsir dalam menghadapi keadaan seperti itu adalah bahwa ia mengenal dengan baik kedua sisi prakik pendidikan yang dihadapi ummat saat itu. Ketika kecil ia akrab dengan pendidikan model pesantren yang berupa pendidikan di Surau. Di waktu yang sama Natsir juga akrab dengan sistem pendidikan ala Belanda karena ia bersekolah di sekolah Belanda. Begitupun ketika Natsir menginjak dewasa. Dengan bersekolah di AMS, ia menjadi sangat hafal dengan sistem pendidikan Belanda. Sementara di saat yang sama, dengan mengaji kepada A. Hassan Natsir menjadi lebih akrab dengan sistem pendidikan Islam ala Pesantren. Latar belakang seperti itulah yang membuat Natsir memahami kedua model pendidikan itu. Sehingga kemudian munculah ide integralistik pendidikan. Bahkan kemudian Natsir mencoba menerapkan idenya itu di Pendis dan Pesantren Persis.

5. Tentang Pendidik.

Mohammad Natsir sangat memperhatikan masalah pendidik. Menurutnya anak-anak adalah amanah yang diberikan Allah swt kepada orangtua. Tugas orangtua adalah mendidik anak itu, karena sebagaimana yang dijelaskan rasulullah saw dalam satu haditsnya, setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Dan orantuanyalah yang menentukan akan menjadi apa anaknya itu kelak, yahudikah, nasranikah atau majusikah. Kemudian Natsir menjelasakan bahwa kewajiban mendidik anak bukan hanya kewajiban yang sifatnya fardu ’ain bagi setiap orang tua, tapi juga fardu kifayah bagi segolongan dari ummat Islam ini[32]. Artinya, ”Kaum muslimin wajib mengadakan dari antara kaum kita juga, satu golongan yang akan mendidik anak-anak kita, supaya didikan anak-anak itu jangan diserahkan kepada mereka yang tidak sehaluan, tidak sedasar, tidak seiman dan tidak seagama dengan kita”[33].

D. Penutup

Dari pemaparan di atas, jelas terlihat bahwa konsep pendidikan yang dipegang dan diamalkan Mohammad Natsir dari sejak awal hingga akhir hidupnya terlihat konsisten. Hal ini, seperti yang ditulis Mochtar Naim karena dalam menjabarkan konsep-konsep pendidikannya, selalu merujuk kepada sumber rujukan utama, yaitu al-Qur`an dan al-Hadits[34].

Selain itu Mohammad Natsir juga terlihat sangat konsisten untuk senantiaa memperbaikai dan membangun dunia pendidikan. Hal ini karena prinsipnya yang sudah ia pegang semenjak muda, bahwa pendidikan adalah masalah yang sangat penting guna memajukan masyarakat. Tak heran jika hasil jerih payah Mohammad Natsir di dunia pendidikan itu, hingga kini masih terasa manfaatnya bagi masyarakat dan ummat Islam Indonesia.


[1] Penulisan Biografi ini merujuk sepenuhnya kepada buku Muhammad Natsir 70 tahun kenang-kenangan kehidupan dan perjuangan; Yusuf Abdullah Puar dkk; Pustaka Antara; Jakarta; 1978.

[2] Sekolah jaman Belanda setingkat SMP sekarang.

[3] Sekolah jaman Belanda setingkat SMA sekarang.

[4] Sekolah Partikelir adalah sebutan untuk sekolah swasta zaman Belanda yang didirikan bukan oleh pemerintahan Hindia-Belanda.

[5] Masyumi ini bukan partai politik yang kelak berdiri di Indonesia.

[6] Muhammad Natsir 70 tahun kenang-kenangan kehidupan dan perjuangan; Yusuf Abdullah Puar dkk; Pustaka Antara; Jakarta; 1978; hal. 4.

[7] Idem; hal. 7

[8] idem; hal. 10

[9] idem; hal. 6

[10] Wawancara dengan Ust. Dahlan Bashri, Mudir pertama LPDI.

[11] Ulil Amri Syafri, Pemikiran Pendidikan Natsir Parade yang Belum Usai; Majalah Al-Mujtama’; edisi 3 Th I/14 Rajab 1429/17 Juli 2008; hal. 45

[12] Anwar Harjono, dkk; Pemikiran dan Perjuangan Mohammad Natsir; Pustaka Firdaus; Jakarta; 2001; Hal. 154

[13] idem; Hal. 154

[14] M. Natsir; Capita Selecta; Cet. III; 1973; Jakarta; Bulan Bintang; hal. 77.

[15] Idem; hal. 79.

[16] Idem; hal. 77.

[17] Idem; hal. 78.

[18] Anwar Harjono, dkk; Pemikiran dan Perjuangan Mohammad Natsir; Op.Cit; Hal. 148

[19] Idem; Hal. 147

[20] Idem; Hal. 132

[21] Idem; Hal. 132

[22] Idem; Hal. 152

[23] M. Natsir; Capita Selecta III; Op.Cit; hal. 82.

[24] Idem; hal. 82.

[25] Idem; hal. 83

[26] Anwar Harjono, dkk; Pemikiran dan Perjuangan Mohammad Natsir; Op.Cit; Hal. 150

[27] Ketika Mohammad Natsir memberikan pidatonya ini, orang sering mempertentangkan antara system pendidikan Barat dan sistem pendidikan Timur.

[28] Idem; Hal. 150

[29] Idem; Hal. 151

[30] Idem; Hal. 158

[31] Tiar Anwar Bachtiar; M. Natsir: Pelopor Pendidikan Islam Integral; makalah; hal. 6.

[32] Landasan yang dipakai Natsir adalah surat Ali Imran ayat: 104.

[33] M. Natsir; Capita Selecta III; Op.Cit; hal. 81.

[34] Anwar Harjono, dkk; Pemikiran dan Perjuangan Mohammad Natsir; Op.Cit; Hal. 155
*Oleh : Dwi Budiman

Tidak ada komentar: