Selasa, 09 Agustus 2011

TOKOH-TOKOH LIBERALISME




Liberalisme awalnya adalah sebuah gerakan pemikiran yang terjadi di Eropa antara abad ke-15-17. Gerakan ini bermaksud melawan hegemoni gereja dan para penguasa feodal saat itu. Karena sebelumnya ilmu pengetahuan dan sains berada di bawah kekangan dogma gereja yang dibantu para penguasa. Perkembangan ilmu pengetahuan dan sains harus sesuai dengan doktrin-doktrin keimanan gereja, jika bertentangan maka ilmu pengetahuan dan sains-lah yang harus “kalah”, seperti yang terjadi pada Copernicus dan Galileo. Maka selama ribuan tahun akal kalah total dan iman (Kristen) menang mutlak.
Keadaan seperti itu berlangsung ribuan tahun, sampai munculah gerakan pencerahan yang dimulai oleh seorang pemikir bernama Rene Descartes. Setelah itu, bagaikan bendungan jebol, bermunculanlah pemikir-pemikir lainnya. Tujuan mereka, walaupun dengan jalan berbeda-beda, adalah satu, mengalahkan dominasi iman atas akal.
Tetapi sejarah berulang, sofisme Yunani terulang lagi, Ahmad Tafsir menyebutnya sofisme modern. Disebut demikian karena cirri pokok sofisme lama ada pada sofisme modern. Ciri itu adalah: kebenaran itu relative.

Dalam arus besar itu terdapat berbagai macam aliran pemikiran, yang paling menonjol adalah aliran rasionalisme dan empirisme dengan tokohnya masing-masing. Gerakan besar inilah yang dikenal dengan gerakan liberalisme.

Rasionalisme (Rene Descartes dan Spinoza)
Rasionalisme adalah paham filsafat yang mengatakan bahwa akal (reason) adalah alat terpenting dalam memperoleh pengetahuan dan mengetes pengetahuan. Rasionalisme mengajarkan bahwa pengetahuan diperoleh dengan cara berpikir. Alat dalam berpikir itu adalah kaidah-kaidah logis/logika.
Rasionalisme ada dua macam: dalam bidang agama dan dalam bidang filsafat. Dalam bidang agama rasionalisme adalah lawan autoritas, biasanya digunakan untuk mengkritik ajaran agama. Sementara dalam bidang filsafat ia adalah lawan empirisme, biasanya berguna sebagai teori pelngetahuan.(Ahmad Tafsir; Filsafat Umum; Rosda; Bandung; 2004; cet.XIII; hal.127)

Rene Descartes (1596-1650)
Sumbangsing Descartes yang paling besar pada filsafat adalah metode skeptis (keragu-raguan metodis) sebagai upaya untuk memperoleh kebenaran. Menurutnya untuk memperoleh pengetahuan yang terang dan jelas maka terlebih dahulu kita harus meragukan segala sesuatu (Rizal Mustansyir; Filsafat Analitik; Rajawali Pers; Jakarta; 1995; cet.II; hal.24).
Akan tetapi, lanjut Descartes, sekalipun kita berusaha meragukan segala sesuatu tetap saja ada sesuatu yang tidak bisa diragukan, ia adalah pikiran. Ia menulis “Masih ada satu yang tidak dapat aku ragukan, bahkan tidak satu setan yang licikpun dapat mengganggu aku, tak seorang skeptispun mampu meragukannya, yaitu saya sedang ragu. Jelas sekali saya sedang ragu. Boleh saja badan ini saya ragukan adanya, hanya bayangan, misalnya atau hanya seperti dalam mimpi, tetapi mengenai “saya sedang ragu” benar-benar tidak dapat diragukan adanya.
Aku yang sedang ragu itu disebabkan oleh aku berpikir. Kalau begitu, aku berpikir pasti ada dan benar. Jika aku berpikir ada, berarti aku ada sebab yang berpikir itu aku, Cogito ergo sum, aku berpikir jadi aku ada. (Ahmad Tafsir; Filsafat Umum; Op.Cit; hal.131)
Sekarang Descartes telah menemukan dasar (basis) filsafatnya. Basis itu ialah aku yang berpikir. Pemikiranku itulah yang pantas dijadikan dasar filsafat karena aku yang berpikir itulah yang benar-benar ada. Disini kelihatanlah sifat subjektif, individualistis, humanis dalam filsafat Descartes. Sifat-sifat inilah nantinya yang mendorong perkembangan filsafat pada Abad Modern. (Ibid; hal.132)
Inilah kemenangan akal atas iman. Kemenangan akal pada ronde ini telah menyebabkan kaidah sains menjadi guncang, ajaran iman menjadi goyah. Orang meragukan sains dan agama. Rasionalisme dan humanisme yang dikembangkan Descartes telah menimbulkan subjektivisme dan relativisme, persis seperti perkembangan alam pemikiran pada zaman sofis dulu. (Ibid; hal.133)
Karena dibukanya kran akal oleh Descartes inilah Voltaire telah berani mencanangkan kuasa akal di Eropa. Oleh Hobbes rasionalisme itu dikembangkan menjadi atheisme dan materialisme yang kental. Jiwa telah dihilangkan oleh Locke dan Berkley telah menghilangkan materi. Agama dan sains guncang dan goyah.
Sikap skeptis metodis yang dicanangkan Descartes itu turut mewarnai corak pemikiran para filusuf analitik yang meragukan ungkapan-ungkapan dalam filsafat, dengan cara meragukan setiap ungkapan filsafat, terutama dalam bidang metafisika dan teologi, para filusuf analitik berupaya menentukan kriteria yang tegas antara ungkapan yang bermakna dan ungkapan yang tidak bermakna. (Rizal Mustansyir; Op.Cit; hal.27).

Benedictus de Spinoza (1632-1677)
Masalah yang paling menonjol dari Spinoza adalah masalah metafisika. Dimulai dengan pertanyaan, Berapa banyak sebenarnya substansi itu menurut Spinoza? Jawababnya satu (ia monis). Spinoza berdasarkan cara ini menyimpulkan hanya ada satu substansi. Bodies (tubuh) dan mind (jiwa) hanyalah atribut dari yang satu itu. Jadi “Apa substansi itu?” jawabannya “satu substansi yang tak terbatas”. Pertanyaan selanjutnya “bagaimana kita membedakan atribut, bodies dan mind?”, jawaban Spinoza “Anda hanyalah satu bagian dari substansi kosmik (universe)”. Jadi apa perbedaan body saya dan body anda adalah suatu persoalan yang tidak perlu dijawab, karena hanya ada satu body, tapi bukan body individual.
Spinoza telah membuktikan bahwa Tuhan, substansi dan penyebab dalam dirinya, ketiga-tiganya ini identik. Ia menulis “selain Tuhan, tidak ada substansi yang dapatdipahami”. Ini berarti Tuhan dan alam semesta adalah sama. Posisi ini disebut pantheisme (semua adalah Tuhan). Spinoza percaya pada Tuhan tapi Tuhan yang dimaksud adalah alam semesta ini. Tuhan Spinoza tidak berkemauan, tidak melakukan sesuatu, tak terbatas (ultimate). Tuhan itu tidak memperhatikan sesuatu, juga tidak memperdulikan manusia. (Ahmad Tafsir; Filsafat Umum; Op.Cit; hal.138)

Empirisme (Locke, Hume dan Spencer)
Empirisme adalah suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan serta pengetahuan itu sendiri, dan mengecilkan peran akal. Untuk memahami isi doktrin ini perlu dipahami lebih dahulu dua cirri pokok empirisme, yaitu mengenai teori tentang makna dan tentang pengetahuan.
Teori makna pada aliran empirisme biasanya dinyatakan sebagai teori tentang asal pengetahuan, yaitu asal-usul idea atau konsep. Pada abad pertengahan teori ini diringkaskan dalam rumus Nihil est intellectu quod non prius in sensu (tidak ada sesuatu di dalam pikiran kita selain didahului oleh pengalaman). Sebenarnya pernyataan ini merupakan tesis Locke (dalam bukunya An Essay Concerning Human Understanding), yaitu jiwa, tatkala dilahirkan, keadaannya kosong, laksana kertas putih atau tabula rasa, yang belum ada tulisan diatasnya, dan setiap idea yang diperolehnya mestilah datang melalui pengalaman; maksudnya pengalaman inderawi.
Teori kedua yaitu teori pengetahuan adalah, tidak ada kemampuan intuisi rasional itu. Semua kebenarn adalah kebenaran yang diperoleh lewat observasi, jadi ia kebenaran a posteriori. (Ahmad Tafsir; Filsafat Umum; Op.Cit; hal.173-175)

John Locke (1632-1704)
Pemikiran Locke didasarkan pada premis semua pengetahuan datang dari pengalaman. Ini berarti tidak ada yang dapat dijadikan idea atau konsep tentang sesuatu yang berada dibelakang pengalaman, tidak ada idea yang diturunkan seperti yang diajarkan Plato. Teori ini dikenal dengan teori tabula rasa, sebuah teori epistemology dari faham empirisme. (Ibid; hal.173-176)
Locke malanjutkan argumennya bahwa sifat objek itu ada dua, pertama primary qualities (sifat pertama) yaitu sifat asli yang dimiliki objek. Kedua secondary qualities (sifat kedua), ini adalah sifat objek yang ditangkap oleh indera. Keduanya berbeda. Ide-ide tentang primary qualities objek ada pada objek itu, pola mereka ada pada objek itu sendiri, tetapi idea yang dihasilkan dalam jiwa kita oleh secondary qualities tidak berada pada objek itu. Yang kita ambil dari objek itu adalah power untuk menghasilkan sensasi itu dalam diri kita.
Lalu mengenai substansi, Locke selalu berbicara mengenai intuisi untuk menjawabnya. “Pengetahuan kita itu kita peroleh lewat intuisi. Eksistensi Tuhan, akallah yang memberitahukannya kepada kita”. Disini Locke tampak kebingungan maka akhirnya ia berkesimpulan, kita tidak tahu apa-apa tentang substansi. (Ibid; hal.179-180)

David Hume (1711-1776)
Hume menyatakan, sebagaimana Locke, bahwa semua pengetahuan dimulai dari pengalaman indera sebagai dasar, kesan adalah basis pengetahuan.
Tapi kemudian Hume menjelaskan bahwa hubungan sebab akibat tidak merupakan suatu hubungan antar idea (reation of ideas) karena hal itu tidak mempunyai bukti. Itu terbentuk semata-mata oleh akal, padahal hanya akal tidak akan menyampaikan pada pengetahuan adanya sebab akibat. Akhirnya Hume menyimpulkan bahwa idea kausalitas itu tidak juga dapat diperoleh melalui persepsi (pengalaman). Pada akhirnya Hume menentang induksi. Ia juga menentang prinsip induksi untuk memprediksi masa depan. Jadi mula-mula ia menolak adanya pengetahuan a priori, lalu ia juga menolak sebab akibat, menolak pula induksi yang berdasarkan pengalaman. Jadi habislah segala macam cara untuk memperoleh pengetahuan, semuanya ditolak. Inilah skeptis tingkat tinggi. (Ibid; hal.184-185)

Herbert Spencer (1820-1903)
Filsafat Spencer berpusat pada teori evolusi. Empirismenya jelas terlihat dalam filsafatnya tentang the great unknowable. Menurut Spencer, kita hanya dapat mengenali fenomena-fenomena atau gejala-gejala. Memang benar di belakang gejala-gejala itu ada suatu dasar absolute, tapi yang absolute itu tidak dapat kita kenal. Secara prinsip pengenalan kita hanya menyangkut relasi-relasi antara gejala-gejala. Di belakang gejala-gejala ada sesuatu yang oleh Spencer disebut the great unknowable / yang tidak diketahui. Sudah jelaslah menurut Spencer metafisika menjadi tidak mungkin. (Ibid; hal.187)
Penyebab semua itu adalah kerelatifan pengetahuan kita. Kita berpikir dengan cara menghubung-hubungkan pengetahuan. Pikiran kita dibentuk oleh gejala-gejala itu, karena itu tidak mungkin kita menembus bagian belakang gejala tersebut. Dari sini diketahui bahwa rekonsiliasi antara sains dan agama menjadi tidak mungkin. Kata Spencer, biarlah sains membicarakan hukumnya: menolak Tuhan, mengambil materialisme, dan biarkanlah agama mempertahankan Tuhan, menolak materialisme. Tidak ada jalan untuk memahami agama, karena ia terletak di belakang fenomena.
Menegnai evolusi ia mengatakan bahwa seluruh sejarah mengalami evolusi karena ia haruslah mengandung pengertian tentang pemunculannya dan kehancurannya. Kehidupan adalah penyesuaian terus menerus antara dalam dan luar diri, jadi kehidupan berevolusi. Begitupun dengan yang lainnya, jiwa, moral, perkembangan masyarakat semuanya mengalami evolusi.

Demikianlah pokok-pokok pikiran para tokoh liberalisme pada awalnya. Kemudian pikiran-pikiran mereka ini dikembangkan oleh para pengikutnya masing-masing. Ada Hegel dengan Idealisme Objektifnya, ada Kant dengan Idealisme Theisnya, ada James dengan Pragmatismenya, ada Sartre dengan Eksistensialismenya dan ada juga Nietzsche dengan ungkapan terkenalnya “Tuhan telah mati”. Selain itu ada juga orang-orang yang mengadopsi pikiran mereka dan menjadikannya pegangan, seperti para penganut liberalisme Islam. Wallahu’alam.























Tidak ada komentar: