ISLAM DALAM PANDANGAN SARJANA BARAT

“Buktikan kepada saya apa yang dibawa oleh Muhammad sekarang ini, tidak ada apa-apa kecuali hanya ajaran syetan dan tidak manusiawi seperti ajarannya tentang penyebaran iman dengan pedang”

Kalimat di atas keluar dari mulut seorang Paus Benediktus XVI, pemimpin tertinggi umat Katolik. Segera saja ucapan Paus itu mendapat reaksi keras dari umat Islam di seluruh dunia, karena dianggap menghina Islam, nabi Muhammad dan syari’at (jihad). Apakah perkataan Paus itu mewakili pandangan Barat terhadap Islam secara umum ataukah hanya pendapat pribadi saja?

Sejarah Studi Islam di Barat
Interaksi pertama kali antara Islam dan Barat terjadi ketika umat Islam berhasil menguasai Andalusia (Spanyol) sekitar tahun 711 M. Saat itu peradaban Islam sedang berada di puncak kejayaannya, sehingga tidak heran kalau orang-orang Barat banyak belajar kepada umat Islam. Karena saat itu Barat merasa dikuasai oleh umat Islam, maka dalam pandangan Barat Islam adalah penjajah dan mereka harus berjuang untuk melepaskan diri dari penjajahan tersebut. Sehingga ketika Barat kembali berhasil mengalahkan umat Islam di Andalusia mereka memperlakukan orang Islam layaknya musuh yang harus dimusnahkan.
Selanjutnya interaksi Islam dan Barat berlanjut saat terjadinya perang Salib, sebuah peperangan besar antara pasukan kaum muslimin dan laskar kristen selama 300 tahun, guna memperebutkan Yerussalem. Saat itu tentu saja hubungan Islam dan Barat masih berupa permusuhan. Di tengah berkecamuknya Perang Salib, sekitar tahun 1141-1142 ada sekelompok intelektual Barat (Kristen) yang berusaha mempelajari Islam dengan serius. Mereka dipimpin oleh Petrus Venerabilis. Hal pertama yang mereka lakukan adalah menerjemahkan al-quran ke dalam bahasa Latin. Sekalipun terjemahan al-quran tersebut mengandung banyak kekeliruan, namun terjemahan itu tetap menjadi rujuakan Barat dalam memandang Islam selama kurang lebih 600 tahun kemudian. Pada fase ini, intinya Barat memandang ”Islam sebagai Kristen yang Sesat” (Islam as Christian Heresy). Maka tak heran kalau mereka banyak menuduh Islam dengan kata-kata kasar dan vulgar. Misalnya mereka mengatakan bahwa al-quran adalah kitab setan, nabi Muhammad adalah pesuruh setan dan Islam adalah sekte terkutuk, terlaknat sekaligus berbahaya.
Pandangan Barat mengenai Islam seperti itu terus berlangsung hingga abad 16. Munculah stigma Islam itu bagi Kristen merupakan simbol teror, perusak dan barbarian. Bagi orang Eropa Islam adalah trauma yang tak pernah berakhir. Southern dalam bukunya Western Views of Islam in the Middle Ages, menulis bahwa “orang kristen ingin agar timur dan Barat Eropa bersepakat bahwa Islam itu adalah Kristen yang sesat (misguided version of christianity). Bahkan tidak sedikit yang menulis bahwa Muhammad adalah penyebar wahyu palsu, tokoh penipu, tidak jujur, pelaku sodomi, yang kesemuanya itu diambil dari doktrin keagamaan yang dibawanya”.
Memasuki abad 17-18 Barat masih tetap memandang Islam dengan pandangan negatif dan penuh api perseteruan. Tahun 1653 misalnya, Alexander Ross menerbitkan buku yang banyak menghujat Islam, ia menulis buku berjudul The Prophrt of Turk and Author of the Al- Coran. Isinya sering menggunakan kata-kata kasar seperi the great Arabian imposter, the little horn in denial, Arabian swine untuk menyebut nabi Muhammad dan para pengikutnya. Terhadap al-quran ia menyebut corrupted puddle of Mahomet’s invention dan Mis-shapen issue of Mahomet’s brain.
Abad ke 19 Barat menguasai mayoritas wilayah Islam. Mereka banyak mendirikan lembaga-lembaga studi keislaman dan ketimuran untuk mempelajari Islam secara lebih serius. Hasilnya cara pandang Barat terhadap Islam mengalami pergeseran yang cukup besar, dari fase kebencian dan caci maki menjadi serangan sistimatis dan ilmiyah. Walaupun tetap mengandung banyak kesalahan dan pandangan negative.
Setelah perang dunia II, pandangan Barat mengenai Islam kembali mengalami pergeseran dari sentimen keagamaan yang vulgar menjadi lebih lembut. Mereka tidak lagi mengumbar kata-kata kasar dan vulgar sebagai cerminan kebencian mereka terhadap Islam, tapi banyak mengkritisi ajaran-ajaran Islam, seperti mengkritisi konsep wahyu dan cara menafsirkannya. Walaupun demikian Edward Said menyimpulkan pandangan Barat tetap saja rasial, imperialis dan etnocentris. Sebab tulisnya, Barat memandang Timur (Islam) dengan rasa superioritas yang tinggi. Jadi walau bagaimanapun, Barat tetap memandang Islam berdasarkan ”kaca mata” dan pengalaman manusia Barat yang dipicu oleh motif dan semangat missionaris, hingga kini.
Itulah gambaran mengenai studi Barat mengenai Islam sepanjang sejarah. Di dalamnya penuh dengan kebencian dan amarah yang luar biasa, sehingga mereka sering menuduh Islam dan umatnya dengan tuduhan negatif, seperti teroris belakangan ini. Yang jelas, sampai kapanpun Barat karena mayoritas penduduknya Kristen tidak akan pernah ridho terhadap umat Islam kecuali jika kita sudah mengikuti millah mereka, sebagaimana yang dijelaskan Allah swt dalam surat al-Baqarah ayat 120:
” Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”.


Pandangan Lain
Disamping pandangan negatif Barat terhadap Islam di atas, ada beberapa intelektual Barat yang memandang Islam dengan pandangan lain. Yang paling terkenal tentu saja pandangan Michael T. Hart yang dalam bukunya ”100 tokoh paling berpengaruh di dunia” menempatkan nabi Muhammad sebagai tokoh nomor satu dengan berbagai komentar positifnya. Atau pandangan Harry Gaylord Dorman dalam buku "Towards Understanding lslam" misalnya, ia menulis: "Kitab Qur'an ini adalah benar-benar sabda Tuhan yang didiktekan oleh Jibril, sempurna setiap hurufnya, dan merupakan suatu mukjizat yang tetap aktual hingga kini, untuk membuktikan kebenarannya dan kebenaran Muhammad". Prof. H. A. R. Gibb dalam buku "Mohammadanism" menulis: "Nah, jika memang Qur'an itu hasil karyanya sendiri (Muhammad), maka orang lain dapat menandinginya. Cobalah mereka mengarang sebuah ungkapan seperti itu. Kalau sampai mereka tidak sanggup dan boleh dikatakan mereka pasti tidak mampu, maka sewajarnyalah mereka menerima qur'an sebagai bukti yang kuat tentang mukjizat.
Sementara itu, seiring dengan kemajuan teknologi informasi terutama internet, pandangan masyarakat Barat secara umum terhadap Islam juga sudah mulai berubah. Jika dulu mereka memandang Islam dengan pandangan negatif karena merujuk pada pendapat para intelektual mereka, maka kini banyak masyarakat Barat yang sudah mendapatkan penjelasan mengenai Islam langsung dari umat Islam sendiri. Sehingga banyak diantara mereka yang memahami Islam sebagaimana adanya, bahkan tak sedikit yang kemudian tertarik dengan Islam hingga akhirnya bersyahadat. Inikah tanda kembalinya kejayaan Islam di Barat? Wallahu ’Alam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TOKOH-TOKOH LIBERALISME

PESANTREN SEBAGAI BENTENG UMAT