PESANTREN SEBAGAI BENTENG UMAT

Tulisan minggu lalu telah menjelaskan bahwa, menurut DR. Mohammad Natsir, ada tiga pilar yang menjadi benteng umat di Indonesia. Ketiga pilar itu adalah masjid, pesantren dan kampus. Jika tulisan minggu lalu menjelaskan mengenai masjid sebagai pilar petama, maka tulisan kali ini akan mencoba menjelaskan pilar kedua dari benteng umat ini yaitu pesantren.

Pengertian Pesantren
Perkataan pesantren berasal dari kata santri. Dengan ditambah awalan pe dan akhiran an menjadi pesantrian (kemudian pelafalannya menjadi “pesantren”) yang memiliki arti tempat tinggal para santri. Istilah santri sendiri ada yang mengatakan berasal dari bahasa Tamil yang berarti guru ngaji. Sementara yang lain berpendapat bahwa istilah santri berasal dari bahasa India, yaitu shastri yang artinya orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu.
Sementara menurut pengertian umum, pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang memiliki ciri-ciri, 1. Adanya hubungan yang akrab antara santri dan kiai, 2. Santri taat dan patuh kepada kiainya, 3. Para santri hidup secara mandiri dan sederhana, 4. Adanya semangat gotong royong dan kekeluargaan, dan 5. Diajarkannya kitab-kitab klasik sebagai bahan pelajaran utama.
Sementara secara fisik pesantren minimalnya mempunyai sarana dasar berupa, masjid atau langgar sebagai pusat kegiatan, rumah tempat tinggal kiai dan keluarganya, pondok sebagai tempat tinggal para santri dan ruangan-ruangan untuk belajar. (Ensiklopedi Islam; Jilid IV; hal. 99-104)
Sekalipun kini pesantren telah berkembang sesuai dengan kemajuan zaman, tetapi definisi di atas masih melekat dan tetap menjadi ciri khas di lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia itu.

Peran Pesantren
Setidaknya, pesantren telah ada di Indonesia sejak abad ke-15. Selama keberadaanya itu, pesantren telah memiliki peran yang sangat besar bagi umat Islam Indonesia. Minimal ada tiga peran besar yang selama ini dimainkan pesantren. Yaitu:

Pertama, pesantren adalah lembaga penghasil ulama.
Sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam, selama ini pesantren dikenal sebagai pencetak para ulama handal di Indonesia. Ini terkait dengan misi utama pesantren sebagai lembaga pencetak thâ`ifah mutafaqqihîna fiddîn (para ahli agama). Tak terhitung jumlahnya ulama yang telah lahir dari pesantren. Kita mengenal nama-nama seperti Imam Nawawi Al-Bantani, HOS Tjokroaminoto, Hamka, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan dan KH. Imam Zarkasyi. Mereka adalah sebagian kecil dari para alumni pesantren yang menjadi ulama besar dikemudian hari.
Salah satu ciri khas ulama lulusan pesantren adalah, mereka bukan hanya memiliki ilmu yang luas tapi juga akhlaq yang tinggi. Hal ini terkait dengan metode pendidikan yang dikembangkan para kiai di pesantren. Tujun pendidikan tidak semata-mata untuk memperkaya pikiran santri dengan penjelasan-penjelasan, tetapi juga untuk meninggikan moral, melatih dan mempertinggi semangat, menghargai nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan, mengajarkan sikap dan tingkah laku yang jujur dan bermoral, dan menyiapkan murid untuk hidup sederhana dan bersih hati. Setiap murid diajar untuk menerima etik (peraturan moral) agama di atas etik-etik lain. Tujuan pendidikan pesantren bukanlah untuk mengejar kepentingan kekuasaan, uang dan keagungan duniawi, tetapi ditanamankan kepada mereka bahwa belajar adalah semata-mata kewajiban dan pengabdian kepada Allah. (Tradisi Pesantren; Zamakhsyari Dhofier; Jakarta; 1982; LP3ES; hal. 20-21)
Disamaping para ulama, pesantren juga sukses mendidik guru-guru madrasah, guru-guru lembaga pengajian dan para khotib jum’at.

Kedua, pesantren adalah pusat penyebaran Islam.
Karena pesantren berhasil mencetak para ulama yang sekaligus juru da’wah, maka tidak heran kalau kemudian pesantren juga menjadi pusat penyebaran Islam. Para santri yang sudah lulus, kemudian banyak berkelana untuk menda’wahkan Islam hingga ke pelosok-pelosok tanah air.
Di samping itu, di dunia pesantren juga terdapat tradisi yang dikenal dengan nama sistem pemberian ijazah. Para santri yang sudah dianggap mampu memahami dan menguasai kitab-kitab induk berhak mendapat ijazah dari kiai mereka. Artinya santri yang bersangkutan sudah berhak untuk mengajarkan kitab tersebut kepada orang lain. Bagi para santri yang sudah menerima ijazah, oleh kiainya dianjurkan dan dibantu untuk mendirikan pesantren baru. Biasanya pendirian pesantren itu bertempat di daerah yang belum ada pesantrennya atau di daerah yang belum tersentuh da’wah. Sehingga dengan demikian semakin hari jumlah pesantren semakin bertambah banyak dan berkembang luas. Seiring dengan itu penyebaran Islam juga semakin betambah luas. (Ibid; hal. 124)
Hingga kini peran pesantren sebagai pusat penyebaran Islam masih berjalan. Dewan Da’wah misalnya masih terus mengirim da’i-da’i lulusan pesantren ke daerah-daerah pedalaman untuk menyebarkan Islam.

Ketiga, pesantren adalah pemelihara kehidupan keberagamaan umat.
Disamping memberikan pelajaran kepada para santrinya, pesantren juga biasanya membuka pengajian umum untuk masyarakat sekitar. Sehingga disamping sebagai lembaga pendidikan, pesantren juga berfungsi sebagai tempat umat Islam bertanya. Tidak hanya masalah keagamaan, tapi juga masalah-masalah kehidupan lainnya. Bahkan Kiai Hasan Besari dari Pesantren Tegalsari Ponorogo misalnya, pernah berperan dalam melerai pemberontakan di Keraton Kartasura. (Majalah Sabili; No. 13, Thn. XIII; hal. 23)
Oleh karena itu selama ini pesantren juga dikenal sebagai pemelihara kehidupan keberagamaan umat Islam, khususnya yang berada disekitar lokasi pesantren tersebut. Hal ini juga diakui oleh para peneliti Barat semacam Van den Berg, Snouck Hurgronye dan Clifford Geertz. Setelah melakukan penelitian terhadap pesantren, mereka betul-betul menyadari tentang pengaruh kuat dari pesantren dalam membentuk dan memelihara kehidupan sosial, kultural, politik dan keagaman masyarakat. (Zamakhsyari Dhofier; Op.Cit; hal. 16)

Pesantren Kini
Dengan ketiga peran tersebut di atas, maka wajarlah kalau kemudian pesantren dianggap sebagai salah satu pilar benteng pertahanan umat. Hal ini sangat disadari musuh-musuh Islam. Sehingga mereka berusaha melemahkan peran pesantren agar tidak lagi memiliki peran sebagai benteng umat.
Contoh terbaru adalah usaha yang dilakukan negara-negara Barat, terutama Amerika beberapa tahun belakangan. Misalnya ketika George Walker Bush bertemu dengan Megawati –ketika masih menjadi presiden- di Bali. Salah satu permintaan Bush waktu itu adalah agar pemerintah Indonesia merubah kurikulum pesantren. Terutama yang berkaitan dengan masalah jihad. Tujuannya jelas agar pesantren tidak lagi menghasilkan kader-kader Islam yang memiliki semangat perjuangan membela agamanya.
Disamping itu kini juga banyak lembaga-lembaga asing yang menawarkan bantuan dana kepada pesantren-pesantren. Tentu tidak gratis, harus ada kompensasi yang dilakukan pesantren. Salah satunya merubah kurikulum mereka agar lebih ramah terhadap Barat (liberal).
Tentu sudah menjadi tugas kita sebagai umat Islam untuk menjaga salah satu benteng pertahanan umat ini. Kita tidak boleh membiarkan musuh-musuh Islam memporak porandakannya. Karena jika salah satu dari pilar benteng umat itu hancur maka hancurlah umat ini. Wallahu’alam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TOKOH-TOKOH LIBERALISME

ISLAM DALAM PANDANGAN SARJANA BARAT